Renungan untuk kita BERSAMA

KITA BERADA DI ZAMAN DIMANA BANYAK SEKALI ORANG SIBUK MEMPERDEBATKAN KEBENARAN KEYAKINANNYA,

NAMUN LUPA MEMPERTANYAKAN APAKAH KEBENARAN KEYAKINAN YANG MEREKA MILIKI TELAH BISA MEMBUAT KEHIDUPAN INI MENJADI LEBIH BAIK ATAU MALAH SEBALIKNYA…?

Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.
Mengapa..?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.

Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, di bentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit dan bukan di latih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar dan peduli.

Di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta banyak para pekerja yang suka korupsi dan maling uang rakyat.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak di didik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan mulai dari pakaian hingga perlengkapan dan bukan di ajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas dan bangga akan kesederhanaan.

Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan anggaran uang rakyat
Mengapa..?

Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.

Di hampir setiap tempat kita mendapati orang yang mudah sekali tersinggung marah dan merasa diri paling benar sendiri.

Mengapa..?
Kerena dulu sejak kecil dirumah dan disekolah mereka sering di marahi oleh orang tua dan guru mereka dan bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.

Di hampir setiap sudut kota kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka dididik untuk saling berlomba untuk menjadi juara dan bukan saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.

Di hampir setiap kesempatan termasuk di media sosial ini juga selalu saja ada orang yang mengkritik, menebar isu, fitnah dan permusuhan tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya.

Mengapa..?
karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah anak-anak biasa di kritik dan bukan di dengarkan segala keluhan dan masalahnya.

Di hampir setiap kesempatan kita sering melihat ada orang “ngotot” dan merasa paling benar sendiri dan menganggap orang lain yang tidak sepaham dengan salah semua dan layak di sakiti.

Mengapa..?
karena dulu sejak kecil di rumah dan sekolah mereka sering melihat orang tua atau gurunya “ngotot” dan merasa paling benar sendiri selalu menyelesaikan masalah dengan hukuman dan kekerasan fisik. .

Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah kita banyak menemukan pengemis

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka selalu diberitahu tentang kelemahan2 dan kekurangan2 mereka dan bukannya di ajari untuk mengenali kelebihan2 dan kekuatan2 mereka.

Jadi sesungguhnya potret dunia dan kehidupan yang terjadi saat ini adalah hasil dari ciptaan kita sendiri di rumah bersama-sama.

Jika kita ingin mengubah potret ini menjadi lebih baik berhentilah memberdebatkan kebenaran dan keyakinan dan mulailah mengubah cara BERPIKIR KITA dan pertanyakanlah apakah cara berpikir kita sudah membuat hidup manusia lebih baik atau malah sebaliknya…?

Karena kebenaran sebuah keyakinan ukurannnya adalah kenyataan yang kita lihat dan darasakan bukan apa yang kita perdebatkan.

Maka rasakanlah…., dan berbuatlah untuk menciptakan hidup yang lebih baik.

dari tulisan George Carlin seorang Comedian pemerhati kehidupan.

***Jika artikel ini dirasakan bermanfaat silahkan di sharing kepada siapa saja sebanyak-banyaknya.

*ditulis kembali dari ayahkita.blogspot.co.id

Ayah Edy.

Advertisements

yu Timah

kabah-poros

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu. Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun. Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp. 5.000 atau Rp. 10.000 setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. ”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. ”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?” ”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.” ”Mau ambil berapa?” tanya saya. ”Enam ratus ribu, Pak.” ”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?” Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban. ”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?” ”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.” ”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.” Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kau belikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. (Ahmad Tohari)

Inspirasi dari berbagai sumber.

10 IMPORTANT LIFE SKILLS EVERY CHILD NEED TO LEARN

We have compiled 10 skills for you that will help you understand the importance of life skills for children which are very useful and universally acknowledged for kids to learn

IMG_1179

  1. COOKING

As a parent, you can ask your kid to assist you in the kitchen from a young age. This is always a good thing, as it will instill healthy and polite dining etiquette.

2. WILDERNESS SURVIVAL SKILLS

You can take your kids to wilderness survival camps. Such camp will teach your kids’ skills such as how to build a shelter, cook over a campfire, move safely over harsh terrain, etc. These skills will help kids build self-confidence and independence, experiencing fun adventures.

3. HOME GARDEN BASICS

Consider using your backyard garden for this purpose. Your kids can learn basic skills about how weather affect plants; how seeds sprout, how gardener cope with plant problems, etc.

4. FIRST AID SKILLS

Children hurt themselves quite freguently while playing, so they should learn how to save themselves and others from accidents and emergencies.

5. SWIMMING

Your kid needs to learn how to swim even if she does not live close to water. This is one skill that may not only save the one who knows it, but also others.

6. MONEY MANAGEMENT SKILLS

Teach your children the value of money and how to save money in order to use it in future.

7. LAUNDRY

Every kid should learn washing their own clothes. It will be helpful for your kid when he/ she goes to school or college. Your kid will learn how to take care of their own clothes.

8. HOUSEHOLD REPAIRS

Children are always eager to know what is inside a TV, fridge, washing machine, mobile, etc. motivate them to learn something more from their inquisitiveness.

9. DEFENSE SKILLS

You can’t be with your kids all the time to protect them from life’s unpleasant surprises. So why don’t you get him/ her admitted in kid to avert any sudden attack, it will also help in his/ her overall mind-focus development.

10. TIME MANAGEMENT

Teach her to dress without help, get ready before school, and finish homework within a specified time. As she grow up, she’ll know to manage time effectively.

“bahagia itu sederhana, mulailah dari keluarga”

Terinspirasi oleh: momjuction.com

sekolahku “taman belajarku”

Slide2

Suatu hari ada orangtua yang bertanya tentang anaknya yang sulit sekali diajak pergi ke sekolah. Jika dipaksa, dia tidak mau turun dari mobil. Bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut, dan sebagainya.
“Apakah anak saya berbohong atau apa?” tanya ibu yang sedang kebingungan itu kepada seorang konselor. Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu diajak juga untuk bertemu dengan konselor tersebut. Kemudian sang konselor menjelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya si anak tidak berbohong, apalagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Sang konselor melihat ini cenderung pada gejala stres anak menghadapi sekolahnya atau dikenal juga sebagai gejala psikosomatis.
Setiap anak memiliki keunikan masing-masing sehingga guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka bisa berhasil dalam proses belajar.
Pada ibu ini, konselor tersebut menjelaskan bahwa dulu sistem pendidikan menganut prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun, setelah dilakukan penelitian selama 30 tahun terhadap anak, ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis, maupun cara otaknya bekerja.
Oleh karena itu, sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya. Bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut, agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya, semua anak harus bisa berhasil.
Lalu, si ibu tadi menyanggah, “Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho.”

“Nah, itu masalahnya,” jawab sang konselor lebih lanjut, “mahal tidak menjamin jalannya prinsip pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak. Bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan modern, tetapi di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama.

Nah, di sinilah kuncinya. Untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek.
Yang pertama, adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah perilakunya santun dan peduli.”

Biasanya sekolah yang baik akan membuat murid-murid betah bersekolah atau bahkan membuat mereka lebih senang bersekolah dibandingkan libur.
Setelah konselor tersebut memberi penjelasan kepada si ibu, anaknya  diajak bicara oleh sang konselor. Di luar dugaan dia berani menjawab dengan jelas sekali.

Pertanyaan diawali dengan,
“Sayang, apa kamu suka bersekolah?” Dia diam tidak menjawab.
“Apakah kamu ada masalah di sekolah?” Dia mengangguk.
“Apakah kamu ada masalah yang membuat kamu sekarang tidak suka bersekolah?” Dia mengangguk lagi.
“Apakah masalahnya dengan teman atau guru?”
“Dengan guru.” Dia mulai menjawab.
“Apakah semua guru, beberapa guru, atau hanya satu guru?”
“Hanya satu.” Jawabnya.
“Boleh Ayah tahu namanya?”
“Ibu X.” Jawab anak itu lagi.

Kemudian, sang konselor menoleh ke si ibu, “Ibu dengar penjelasan langsung anak Ibu?”

Akhirnya, si ibu pun mengangguk, “Ya, Bapak. Mungkin anak saya benar. Karena sejak ganti guru dia menjadi berubah seperti ini. Lalu, saya harus bagaimana Bapak?”

“Sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama, coba ajak pihak sekolah untuk bekerja sama.

Jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responsnya. Jika masalah ini ditanggapi positif, kemudian ada usaha dan tindakan perbaikan maka itu sekolah yang peduli namanya.”

“Lalu, jika tidak ditanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana?”

“Ya, saya pikir Ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Menurut saya, saat ini sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya.

Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orangtua dan sekolah.

Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orangtua dan pihak sekolah.” Jelas saya panjang lebar.

Sebuah pengalaman dalam memberikan konseling pada seorang ibu yang anaknya mengalami Stress setiap kali mau berangkat kesekolah.

di tulis ulang oleh Ayah Edy, dari buku ayah edy punya cerita.
http://www.ayahkita.blogspot.com

“Kado” indah di bulan Agustus

IMG_20160816_2222421-1024x768

C’Kill film, komunitas film BK Universitas PGRI Semarang mewakili Jawa Tengah dalam acara 10 besar Nasional Sayembara Kependudukan BKKBN 2016, bertempat di Hotel Golden Boutique Jakarta, pada tanggal 15-18 Agustus 2016 lalu. Dalam acara tersebut hadir peserta 10 besar Nasional yang mewakili tiap-tiap Provinsi di Indonesia. Acara yang digelar BKKBN ini dimulai pada tahapan seleksi di tiap-tiap Kota untuk lolos mewakili Provinsinya. Hingga ditetapkan 10 besar yang bersaing pada putaran final di Jakarta.

Acara dihadiri lebih dari 50 peserta dari 5 cabang sayembara yang diselenggarakan BKKBN; meliputi film pendek, pidato remaja dewasa, pidato remaja, blog, dan komik. Disini, C’Kill film dari prodi BK UPGRIS berhasil masuk 10 besar Nasional dengan filmnya “This is destiny and the peculiar baraka”. Dalam ajang tersebut C’Kill film yang diwakili oleh Bagus Pradikta sebagai sutradara sukses memaparkan film yang berdurasi 22 menit tersebut, dan membuat dewan juri berkomentar bahwa film ini adalah film terbaik diantara film-film yang lain, film ini lengkap colouring-nya selaras, dan isi konsep cerita yang bikin penonton yang hadir haru.

Tim juri yang diketuai oleh Arswendo Atmowiloto itu akhirnya memberikan penghargaan “film pendek dengan Naskah terbaik” karya C’Kill film tersebut meskipun film ini sempat mendapat kritik karena durasi yang sedikit over, namun film ini telah membius peserta lain, dari seluruh provinsi yang hadir.

Seperti komentar Yusni Wati, peserta lomba pidato dari Pekan baru, Riau “dari semua film pendek yang disajikan para peserta, hanya film garapan mas Bagus ini yang merupakan the real film, niat bikinnya, bagus alurnya, saya nangis ketika film ini selesai di putar, saya terbawa dengan filmnya”. Demikian pula respon yang sampaikan oleh Bu Esterlina pendamping dari Jawa Tengah, “film ini memang paling bagus diantara yang lainnya, hanya saja durasi yang bikin film ini cuma mendapatkan penghargaan naskah terbaik” itulah komentar positif dari orang-orang yang hadir kemarin, tutur Bagus.

IMG_20160816_2222351-500x666

IMG_20160816_2222281-500x666

Thriller fil dapat ditonton melalui http://youtu.be/YTfdRoH9IK0.

Full Day School … ??

SEKOLAH SEHARIAN vs BERMAIN SEHARIAN

DSC_0195

Full day scholl (FDS), merupakan gagasan konsep Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Dr. Muhadjir Effendy sebagai program 100 hari kerjanya yang diterapkan pada jenjang pendidikan dasar, yaitu SD dan SMP baik negeri maupun swasta. Full day school bertujuan agar secara perlahan anak didik terbangun karakternya dan tidak menjadi “liar” di luar sekolah, ketika orangtuanya belum kembali dari kerja.

Dalam prakteknya full day school menerapkan pembelajaran formal setengah hari, kemudian jam berikutnya dapat diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler, selain itu anak didik juga akan libur pada hari sabtu-minggu. Sehingga anak-anak dapat menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Mendikbud menyampaikan bahwa hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo bahwa kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah terpenuhinya kebutuhan anak didik akan pendidikan karakter dan pendidikan umum di sekolah.

Selanjutnya gagasan full day school ini dirancang jam sekolah anak-anak disesuaikan dengan jam kerja para orangtua, sehingga selepas kerja orangtua dapat langsung menjemput putra-putrinya di sekolah. Orangtua akan merasa aman, tidak khawatir ataupun was-was, karena putra-putrinya tetap berada dibawah bimbingan guru selama para orangtua ini bekerja. Dengan demikian harapannya anak-anak akan terhindar dari pengaruh buruk pergaulan; penyalahgunaan narkoba, tawuran, seks bebas, dan sebagainya.  Penerapan konsep ini diharapkan akan membawa pendidikan di Indonesia lebih maju seperti halnya yang telah diterapkan di Finlandia, negera dengan pendidikan paling maju di Dunia.

Setiap kebijakkan pasti akan menuai pro dan kontra; banyak kalangan masyarakat dan anak-anak usia sekolah yang mempertanyakan program full day school ini. “Wah aku nggak bisa main sepedaan di sore hari lagi dong”, atau “Di sekolah terus bosen” , itulah sedikit ungkapan hati anak-anak usia sekolah saat diwacanakan gagasan full day school. Termasuk para orangtua, “Waduh anakku kan baru masuk sekolah kelas satu SD, masak harus dipaksa sekolah seharian bisa-bisa stres dia nanti”.

Sedangkan para kaum elite politik, menyampaikan agar gagasan ini ditinjau dan dipertimbangkan kembali  mengingat Indonesia yang luas, Sabang sampai Merauke; dengan keadaan geografis mulai dari pesisir pantai-perkotaan-pedesaan-hutan belantara-sampai daerah perbukitan bahkan pegunungan terjal, kondisi fasilitas pendidikan; mulai dari yang terawat dengan baik sampai pada yang reot-apabila tertiup angin akan roboh, serta yang terpenting adalah komitmen para guru untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang nyaman dan menyenangkan bagi anak didik.

Bagaimana apabila gagasannya adalah PLAY ALL DAY, setujukah ???

_DSC7230

Sumber: news.okezone.com http://www.dream.co.id www.pendidikanindonesia.com beritagar.id

Top 10 Ways To Enhance Your Parenting Skills

Take your first step towards being the “best parent” and understand the suggested ways which can help improve your parental skills.

IMG_1150

Jadilah pendengar yang baik

Bersikap empati dan penting untuk mendengarkan anak-anak.
Memberikan kesempatan untuk menjelaskan ketakutan, kecemasan dan keraguannya.
Pastikan untuk memberikan perhatian secara total.

It is essential to understand your child and for that, it is important to listen to them. Many parents just keep on explaining the do’s and don’ts without giving the child an opportunity to explain his fears, anxieties and doubts. Be sure to give your total and undivided attention to your child, when they communicate with you.

Tunjukkan cinta tanpa syarat

Menunjukkan cinta dan kasih sayang.
Memberikan pelukan setiap hari dan kata-kata yang penuh kasih.
Membuat anak merasa dihargai dan dicintai.

It is obvious that all parents love their child, but it is also necessary to show your love and affection visibly. After all, nobody, least of all a kid is a mind reader! An embrace every day and few loving words can make your child feel cherished and beloved. At the same time, the child will feel safe and happy.

Meluangkan waktu yang berkualitas

Meluangkan sebagian waktu bersama dengan anak-anak untuk bercengkrama.
Memainkan sebuah permainan, ataupun bercerita.
Memperkuat ikatan emosional dengan anak.
Mengobrol tentang segala sesuatu di tempat yang nyaman.

There is a difference between ‘spending time’ and ‘spending quality time’. Being a parent you should try to make the most of your time with your kids interactive, i.e., by playing games, telling stories or even by simply chatting about all things under the sky. This will strengthen your emotional bonding with your child.

Jadilah Orangtua yang Adil dan Bersahabat

Penting untuk memberikan aturan disiplin di rumah.
Aturan harus adil.
Segala permasalahan harus dikomunikasikan secara baik-baik, tidak memaksa dan tidak kasar.
Anak seharusnya menghormati orangtua, tidak merasa takut kepada orangtua.

It is important to decide disciplinary rules at home. The rules should be fair and just which implies that punishment for breaking a rule should not be too harsh. However, in all cases the communication should be amicable, non-threatening and non-abusive. Your child should respect you and not be afraid of you.

Jadilah orangtua yang tegas dan berkomitmen

Jangan membuat aturan hanya untuk anak-anak!
Hal ini diperlukan untuk menetapkan batas-batas tegas dan kita sebagai orangtua ada didalamnya.
Tidak harus sering mengubah aturan sesuai dengan kenyamanan anak-anak.
Berkomitmen dan menegaskan kepada anak-anak untuk mematuhinya.

Don’t make rules just for the sake of them! It is necessary to establish firm boundaries and to stick with them. One should not change rules frequently as per their convenience. If you strictly follow the rules that you had created, it sends a firm signal to your child to abide by them.

Jadilah teladan yang luar biasa

Menjadi model untuk anak dalam semua hal.
Orang tua adalah teladan pertama anak.
Anak sedikit belajar dari apa yang orangtua katakan tetapi belajar lebih dari apa yang orangtua lakukan.

A parent is a child’s first role model and they should not have clay feet. What you tell your child and what you follow should be the same. As it is rightly said, a child might learn less from what you say but more from what you do. Be a role model to your child in all senses.

Gunakan apresiasi, bukan hukuman

Pengasuhan yang besifat positif sangat penting.
Selalu mengatakan kepada anak-anak apa yang tidak boleh dilakukan, dan mencoba untuk memberitahu anak-anak apa yang harus dilakukan.
Memberikan “hadiah” atas sikap baik anak-anak.

Positive parenting is very important. Instead of always telling your children what not to do, try to tell them what to do. Also remember to give them proper praise and recognition for all the good work they do. You can also reward them for their good deeds; it ensures that such behaviour gets repeated.

Jadilah seorang pembelajar

Mempelajari buku-buku tentang keterampilan pengasuhan kepada anak-anak.
Mencari di internet untuk mendapatkan tips pengasuhan atau belajar dari sesama orangtua.
Selalu ada kesempatan untuk memberikan pengasuhan yang baik sehingga jangan pernah berhenti belajar.

Always keep on searching information about good parenting skills and understanding and learning them. You can browse for books on parenting skills, search the internet for some quick tips or simply learn from your peers. There is always a room for improvement so never stop learning.

Tempatkan diri pada sudut pandang anak

Menilai perilaku anak-anak.
Diperlukan pemahaman dari sudut pandang anak-anak.
Selalu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjelaskan perilaku yang ditampilkan.
Mengapresiasi  dengan memaafkan dan pemahaman.

Before judging your children’s behaviour, it is necessary to understand their point of view. Also remember how you were, when you were a child. Always give them a chance to explain their behaviour. It is easy to be judgmental but more rewarding to be forgiving and understanding.

Bersabarlah

Menyadari bahwa perubahan sikap anak tidak terjadi dalam semalam.
Menyadari diri untuk tidak terlalu berharap menjadi orangtua yang hebat.
Itu semua membutuhkan waktu dan perubahan akan terjadi secara bertahap.

Always remember that Rome was not built in a day. Never expect your child to change overnight or expect yourself to become a great parent instantaneously. It all takes time and changes come only gradually. So be patient.

“bahagia itu sederhana, mulailah dari keluarga”

Terinspirasi oleh: Palak Shah (momjuction.com)

CHILDREN’S DAY 2016 #2

POTRET-PENDIDIKAN-ANAK-DI-INDONESIA

diunduh melalui indonesiayoungprogress.org

“AKHIRI KEKERASAN PADA ANAK”

Merupakan tema peringatan Hari Anak Nasional 2016, yang diperingati setiap tanggal 23 Juli setiap tahunnya. Dipilihnya tema ini bukan tanpa suatu alasan yang kuat, maraknya kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Tanah Air memunculkan kegundahan kita bersama.

Tentu kita masih teringat dengan kasus Angeline pada tahun 2015 silam, atau kisah Yuyun yang begitu memilukan dan masih segar dalam ingatan kita. Masih banyak kasus-kasus lain yang menimpa anak-anak negeri ini dengan pengalaman hidup yang begitu miris. Ini menimbulkan pertanyaan besar, yaitu apakah anak-anak kita telah mendapatkan hak-haknya secara adil??

Hak untuk hidup, mendapatkan perlindungan, untuk dapat bermain dalam mengembangkan dirinya, hak untuk belajar atau mendapatkan pendidikan yang layak, dan hak-hak yang lainnya. Kekerasan yang dialami anak pun tidak hanya sebatas pada kekerasan fisik saja, kekerasan secara verbal, psikologis, bahkan kognitif (dengan memaksa anak untuk belajar tanpa henti) juga banyak terjadi.

10426695_10202392413675075_2695397180434476049_n

diunduh melalui pinterest.com

Maka dari itu mari bersama kita hentikan kekerasan pada anak, dengan lebih memperhatikan hak-hak anak sesuai dengan konvensi Hak Anak PBB tahun 1989;

Hak untuk BERMAIN

Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN

Hak untuk mendapatkan PERLINDUNGAN

Hak untuk mendapatkan NAMA (identitas)

Hak untuk mendapatkan status KEBANGSAAN

Hak untuk mendapatkan MAKANAN

Hak untuk mendapatkan akses KESEHATAN

Hak untuk mendapatkan REKREASI

Hak untuk mendapatkan KESAMAAN

Hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN

stop-kekerasan-terhadap-anak

diunduh melalui ahok.org

   SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2016

 

Children’s Day (selamat Hari Anak Nasional)

Hari Anak

gambar diunduh melalui mabaihaqi-gallery.blogspot.com

“Kakak …. Ayo to cepetan ganti baju, ini lho adek saja udah siap kok”

“Lhah, malah bengong aja.. ayo to mamah juga udh siap nih , ayo kita berangkat ”

“……………………………”

“Mamah ga adil, kenapa mamah ga tanya aku mau kemana”

“Emangnya  kakak mau kemana?”

“Aku kan pengennya ke toko buku, mah”

“……………………………”

“Owww… kakak pengen ke toko buku to, ya udah berarti kita ke toko buku dulu terus kita belanja, gimana? Setuju?”

“Yeaaa… gitu dong mah”

“Maafin mamah ya kak, tadi enggak tanya kakak dulu maunya kemana”

Seringkali kita dihadapkan pada situasi-situasi seperti ini, dimana orangtua selalu berusaha “memaksakan” keinginannya tanpa mau memahami apa yang menjadi kebutuhan anak.

“Adek pakai baju ini saja ya…”

“Ga mau, mau baju itu”

“Pakai yang ini saja, ini lho ada gambar hewannya… bagus lhoo..”

“Enggak mau… mau yang itu”

Situasi inilah yang pernah saya alami, kadang seringkali kita memberikan standar hidup kepada anak-anak layaknya orang dewasa. Seperti baju yang akan dipakai untuk acara tertentu, saya mengatakan bahwa baju tersebut bagus, ya… itu menurut pandangan saya, namun itu berbeda dengan pandangan anak saya (mungkin ukurannya untuk anak adalah kenyaman dan kesesuaian dengan kesukaan, yaitu apapun hal yang menarik dari baju itu).

Beberapa waktu yang lalu, saat acara perpisahan sekolah di PAUD ada seorang anak perempuan dengan dandanan yang begitu mencolok; riasan wajah yang begitu tebal, bulu mata ditata, baju minim dan sepatu model hak tinggi layaknya dandanan orang dewasa. Kadang saya prihatin dengan hal-hal semcam ini, anak-anak seperti telah kehilangan hak nya untuk dapat mengekspresikan dirinya sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Dalam pendidikan, saya teringat dengan gagasan Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara; yang lebih memilih nama belajar bagi anak dengan sebutan “Taman Siswa”. Merujuk arti kata taman, pastinya kita membayangkan sebuah tempat yang menyenangkan, tentu kita akan bersemangat dan senang apabila diajak pergi ke sebuah taman. Dalam taman terdapat banyak permainan yang menyenangkan sehingga kita tidak pernah bosan melakukan aktivitas dalam taman tersebut. Kita dapat belajar banyak hal; mengapa rumput dan daun berwarna hijau? Mengapa ketika duduk dibawah pohon terasa sejuk? Bagaimana caranya agar memiliki banyak teman untuk diajak bermain? Begitu banyak hal yang bisa dikesplorasi. Ketika hari telah senja, tentu dengan perasaan berat hati ketika harus meninggalkan taman tersebut.

Saat ini, dalam pembelajaran kita dipaksa untuk diam saat dalam kelas, mengikuti pembelajaran yang jauh dari kesan menyenangkan, menjawab sesuai persis dengan apa yang telah dijelaskan, dan mendapat nilai yang memuaskan; jika tidak kita dianggap BODOH. Ya.. arti sukses dalam pendidikan saat ini, yang divalidasi dengan nilai rata-rata 80 / 90 atau nilai dengan huruf B / A.

Impian saya pada putra kami; yaitu ingin membimbing dan memotivasi sesuai dengan minatnya serta menciptakan interaksi (pendidikan keluarga) suasana yang menyenangkan. Bagaimanapun saya menyadari bahwa rasa senang adalah awal mengapa anak menyukai sesuatu hal. Karena dengan selalu memaksakan kehendak hanya akan menumbuhkan kebencianya untuk belajar. Sekali lagi bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa; anak memiliki perasaan, pikiran dan sikap yang berbeda dengan kita; orang dewasa.

Satu hal lagi saya meyakini bahwa pendidikan tidak hanya menjadikan anak sukses secara materi maupun pintar dalam nilai akademik ataupun hanya mendapatkan ijazah untuk melamar kerja nantinya. Lebih dari itu adalah apakah ilmu yang telah didapatkannya mampu memberikan manfaat  dan kebaikan, baik untuk dirinya ataupun orang lain.

Untuk meraih harapan tersebut tentu ada usaha-usaha nyata yang harus ditempuh, maka saya berusaha dengan mengupayakan:

Pendampingan, memberikan pendampingan saat anak belajar dan bermain; dikarenakan orangtua merupakan guru pertama bagi anak sebelum memasuki dunia sekolah. Selain itu, kedekatan antara orangtua dengan anak juga dapat memberikan rasa aman, nayaman, dan membuat anak merasa disayangi.

Menyediakan fasilitas belajar, ingin rasanya dapat selalu menyediakan fasilitas belajar anak; dengan menyediakan buku dengan gambar-gambar yang menarik ataupun dengan mainan edukatif yang dapat merangsang daya imajinasinya.

Menciptakan kondisi yang nyaman dan menyenangkan, saya tidak ingin selalu marah-marah ketika anak menolak untuk belajar. Saya berpikir untuk dapat mengganti dengan aktivitas lain yang menyenangkan/ menarik minatnya dengan memasukkan unsur pembelajaran didalamnya.

Memberikan jawaban yang mengesankan, saya selalu berusaha untuk dapat memberikan penjelasan kepada anak ketika ia mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu hal, walaupun hal tersebut harus saya lakukan berulang-ulang. Tentu saja hal ini saya lakukan dengan menggunakan kata-kata yang sederhan dan mudah dipahami, selanjutnya saya biasa mengajaknya berdiskusi.

Bertanggung jawab, saya sadar bahwa perkembangan teknologi yang cepat berdampak pada laju informasi yang cepat pula, maka saya harus selalu up to date dengan hal-hal tersebut. Hal ini perlu saya lakukan sebagai usaha untuk dapat memberikan pendampingan pada anak masa kini. Intinya orangtua pun juga harus selalu belajar.

IMG_1212

“ADEK…. SELAMAT HARI ANAK NASIONAL YA…”

“Ayah sama Bunda mohon maaf jika belum bisa menjadi orangtua yang baik untuk ADEK”

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2016.  

AYAH, BUNDA sudahkah kita memenuhi hak ANAK???

*bahan bacaan: sahabat biMBA edisi 39 Juli 2016. Majalah Keluarga Ibu dan Anak

malahayati.ac.id

POKEMON GO

PIII…. KAAAA… CHUUUUU…!!!

resize-img

gambar diunduh melalui id.allforwall.net

Pernah dibuat dalam bentuk film animasi yang booming pada tahun 2000an, dengan judul POKEMON sukses menarik perhatian anak-anak untuk menjadi penggemar setianya.

Saat ini, kemunculan yang kesekian kalinya dengan nama POKEMON GO pun sukses merebut hati para penggemarnya. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun turut tertantang untuk memainkan game ini melalui aplikasi androidnya.

Nama Pokémon merupakan nama romanisasi dari nama Jepang “Pocket Monsters”, yang diciptakan oleh Satoshi Tajiri pada 1995. Pada mulanya, Pokémon adalah seri permainan video yang identik dengan konsol game boy. Pokémon merupakan permainan video tersukses kedua di dunia setelah serial Mario yang juga diciptakan oleh Nintendo.

Konsep asli dari Pokémon, seperti yang muncul dalam permainan video dan semua fiksional Pokémon secara umum, adalah mengadopsi hobi mengoleksi serangga, dimana hal itu pernah dilakukan oleh Satoshi Tajiri sewaktu ia masih kanak-kanak.

Dalam permainan video, pemain disebut sebagai Pokémon Trainer (id: pelatih Pokémon). Ada tiga tujuan umum yang harus dilakukan oleh setiap pelatih Pokémon untuk melengkapkan isi dari Pokédex. Pertama, player harus menangkap semua spesies Pokémon yang ada di sebuah region tempat player berada. Kedua, player dituntut untuk mengembangkan spesies Pokémon yang player punya agar menjadi kuat dan kemudian bisa menang melawan penantang yang lain, dan tujuan tambahannya adalah mengalahkan Team Rocket. Ketiga atau terakhir, bila Pokémon yang player didik tersebut cukup kuat dari segi fisik dan teknik, player punya kesempatan besar untuk melawan pelatih terkuat, yang kemudian disebut Pokémon Master.

sorry-mom-ill-be-leaving-to-travel-the-world-and-become-a-pokemon-master

gambar diunduh melalui starecat.com

Berawal dari hobi sederhana Satoshi berhasil menciptakan permainan yang luar biasa digemari oleh hampir seluruh penduduk dunia. Pokemon Go yang resmi rilis pada 7 Juni lalu ini memiliki dampak yang beragam bagi player-nya. Namun, apapun reaksi yang timbul atas sesuatu yang fenomenal menarik untuk diperbincangkan.

Telah menjadi sifat dasar manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (tentu saja terkait dengan hal-hal yang diminatinya). Selanjutnya, manusia juga merupakan seorang pembelajar sejati; dia akan mempelajari sesuatu hal sampai dengan level tertinggi/ tingkat master sekalipun (ciee.. tingkat master) tapi dengan catatan sesuai dengan minat dan diberikan stimulasi yang tepat.

Termasuk juga manusia tertarik dengan sesuatu yang memiliki unsur kebaruhan serta adanya tantangan. Jadi jelaslah, untuk menarik perhatian ataupun menanamkan minat belajar pada anak tidak bisa apabila hanya menggunakan cara-cara yang monoton.

Layaknya permainan POKEMON GO yang selalu memberikan tantangan dalam permainannya akan memacu player-nya untuk selalu belajar bagaimana caranya berpetualang mencari Pokemon, mendidiknya agar menjadi kuat dan tangguh serta menjadikan dirinya sebagai pokemon master, sungguh paket permainan yang lengkap.

Saya mulai berpikir… seandainya proses pendidikan dirancang semenarik ini, tentu akan memunculkan master-master pendidikan masa depan.

pokemon_master_trainers__bma_by_phonemova-d6xjumu

gambar diunduh melalui phonemova.deviantart.com

PIKA… PIKA…. PIIKAAACHUUUUU….!!!!!

http://www.wtfgamersonly.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Pokémon

BACK TO SCHOOL #MASIH BELAJAR

13620809_10205510255790751_8201704802886250547_n

Liburan panjang telah usai, namun rasa-rasanya masih saja rasa malas menggelayuti pikir dan raga ini untuk diajak kembali beraktivitas. Apapun alasannya, mari bersama-sama hadapi kenyataan bahwa sekarang saatnya memulai kembali rutinitas pekerjaan. Awal minggu ini, karyawan/ pegawai baik negeri maupun swasta mulai disibukkan dengan tanggungjawabnya masing-masing. Sedangkan anak-anak akan memulai kembali aktivitas belajar di sekolah mulai minggu depan (18/7/2016). Tempat-tempat wisata yang beberapa hari ini sangat ramai, mulai sepi pengunjung. Jalan-jalan perkotaan yang agak lenggang/ longgar selama liburan tentu akan padat/ macet kembali.

11133955_10203086113748715_6532385677594416776_n

Tidak terkecuali putra kami pun saat ini telah memulai aktivitas belajarnya di salah satu lembaga pengembangan minat anak. Saya bangga, paling tidak semangat untuk belajarnya begitu besar. Dia memulai libur menjelang lebaran satu minggu kemudian dari anak-anak yang belajar di sekolah formal, dan mengakhiri liburan seminggu lebih cepat dari yang lain. Dapat dikatakan waktu liburannya sama dengan orang dewasa yang telah bekerja, berbeda dengan waktu libur anak-anak sekolahan. Tidak ada keluhan/ rengekan yang ia tunjukkan kala harus berangkat untuk belajar bersama.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, itu karena otak membutuhkan beragam informasi yang dibutuhkan. Untuk selanjutnya informasi yang telah diperoleh tersebut akan diolah untuk dijadikan bekal dalam menghadapi tantangan hidup masa mendatang. Dengan catatan stimulasi diberikan secara tepat kepada anak, maka akan menjadi seorang pembelajar yang ulung dan kelak menjadi manusia yang bermakna.

M   A   M   A   MAMA , M   A   M   A   …….. MAMA.

P   A   P   A   PAPA, P   A   P   A   ……… PAPA.

1 seperti LIDI

2 seperi BEBEK kwek kwek

3 seperti BURUNG

4 KURSI TERBALI

5 PERUTNYA BADUT

6 ULAR MELINGKAR

7 TONGKATNYA KAKEK

8 BALON BERTUMPUK

9 BALONNYA TERBANG

10 LIDI dan BOLA

Ejaan kata dan latihan berhitung tersebut ia lantunkan layaknya sebuah lagu. Belajar seperti inilah yang ia lakukan sehari-hari. Proses belajar yang menyenangkan, yang disesuaikan dengan karakteristik anak-anak. Sehingga membuatnya tidak pernah bosan setiap pagi berangkat ke tempat belajarnya, walaupun teman-temannya yang belajar di tempat lain masih menikmati masa liburannya.

Hal ini semakin memperkuat  asumsi umum bahwa seseorang (siapapun itu; anak – dewasa, laki-laki – perempuan) benar-benar dapat menikmati hidupnya jika mendapatkan lingkungan yang benar-benar nyaman untuk berkembang. Itu hanya salah satu contoh kecil lhoo … 🙂

Saya mulai berpikir;

Mengapa anak-anak sekolah suka bolos?

Mengapa anak tidak dekat dengan orangtuanya?

Mengapa pasangan (suami-istri) sering berselisih paham?

Apapun itu adalah tantangan yang harus kita takhlukkan untuk mencapai kualitas dalam menjalani kehidupan.

BERES BERES __ BERES BERES AYO BERES BERES

 BERES BERES __ BERES BERES AYO KITA PULANG